Ketua KPID Jatim Palsu Gentayangan, Waspadalah!
Surabaya - Bagi para pemilik radio dan televisi di Jawa Timur harap berhati-hati
dan waspada terhadap modus penipuan berdalih memperlanjar izin yang mengatasnamakan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah
(KPID) Jawa Timur.
Penipu yang nampaknya mengetahui banyak radio dan televisi yang masih banyak belum berizin
ini berusaha mengambil kesempatan dengan menyaru sebagai Ketua KPID Jatim, Fajar Arifianto.
Korbannya pun cukup
banyak. Direktur Prima FM Madiun, Diyn Darojat mengaku sudah mentransfer Rp 5 juta pada seseorang yang mengaku bernama Fajar
Arifianto. Penelpon memberikan dua nomer rekening di BCA dan Mandiri.
Gaya bicaranya meyakinkan, karena diawali
dengan telepon seorang pria bernama Mulyono yang mengaku sebagai staf ketua KPID Jawa timur, kata Darojat seperti diungkap
Fajar kepada detiksurabaya.com, Rabu (4/2/2009).
Si penelfon yang mengaku Fajar, itu meminta Darojat mentransfer sejumlah uang untuk
tambahan uang saku selama berada di Jakarta untuk pengurusan izin.
Modus penipuan serupa juga dialami seorang
ibu pemilik sebuah radio swasta di Banyuwangi. Sekitar pukul 14.00 WIB, Rabu (4/2/2009), dia ditelpon seseorang yang mengaku
bernama Ketua KPID Jatim. Dia minta uang Rp10 juta dan berjanji akan membantu proses perizinan radio.
Karena
curiga, ibu ini minta bantuan temannya di Jember untuk menanyakan nomer HP Fajar Arifianto. Setelah dicek langsung ke Fajar
Arifianto yang sedang berada di kantornya, Fajar kaget karena sebelumnya tidak pernah menelpon siapapun, apalagi meminta uang.
Ibu ini lega, karena terhindar dari penipuan.
Fajar mengaku prihatin masih ada orang yang jadi korban pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab. "Mestinya bisa dilakukan check and richeck dulu dengan menelpon kantor sekretariat KPID,
atau ke HP saya," kata Fajar Arifianto.
Sebab selama dua hari pada Senin dan Selasa kemarin, Fajar dan Wakil
Ketua KPID Arif Budi Santoso ke Jakarta untuk berkorodinasi dengan Depkominfo dan KPI Pusat terkait proses perizinan.
Fajar meyakini masih ada pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi perizinan di KPID yang memang memakan waktu
cukup lama, karena banyaknya pemohon yang harus dilayani.
"Masyarakat khususnya pemilik radio sebaiknya
lebih berhati-hati dan waspada terhadap modus penipuan meminta transferan uang dari orang yang tidak bertanggung jawab,"
pungkasnya. Fajar menyakini jika kemungkinan besar pelaku telah memakan korban cukup banyak.
"Mungkin saja
korbannya malu sehingga enggan melapor," katanya. Fajar juga meminta jika ada yang mencoba menawarkan jasa untuk memperlancar
perizinan bisa secepatnya dilaporkan melalui SMS hotline KPID Jatim di: 081230690770. (redaksi)
Dikutip dari
Website resmi KPID jatim
Posted By :
NR/MDC FM/2009
Asal Usul Perayaan Valentine
Pada zaman modern ini, hari Valentine didominasi
oleh
hati berwarna pink dan yang dipanah oleh Cupid. Padahal asal-usul perayaan ini justru sangat berbeda jauh dengan simbol-simbol
cinta ini.
Valentine sebenarnya
adalah seorang biarawan Katolik yang menjadi martir. Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan
yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.
Ketika itu, kejayaan kekaisaran Romawi tengah
berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Di perbatasan wilayahnya
yang masih liar, berbagai ancaman muncul dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki. Mereka mengancam wilayah Eropa
Utara dan Asia.
Ternyata wilayah
kekaisaran yang begitu luas dan meluas lewat penaklukan ini sudah memakan banyak korban, baik dari rakyat negeri jajahan maupun
bangsa Romawi sendiri. Belakangan mereka tidak mampu lagi mengontrol dan mengurus wilayah yang luas ini.
Untuk mempertahankan kekaisarannya, Claudius II tak henti merekrut
kaum pria Romawi yang diangap masih mampu bertempur, sebagai tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang.
Sang kaisar melihat tentara yang mempunyai ikatan kasih dan pernikahan bukanlah tentara yang bagus. Ikatan kasih dan batin
dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka. Oleh karena itu, ia melarang kaum
pria Romawi menjalin hubungan cinta, bertunangan atau menikah.
Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul
dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium
oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi
hukuman mati.
Di penjara, dia bersahabat
dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Petugas penjaga penjara ini memiliki seorang putri yang menderita kebutaan
sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya. Sambil mengobati, Valentine mengajari sejarah dan agama.
Dia menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu.
Julia bertanya, "Apakah Tuhan sungguh mendengar
doa kita?"
"Ya anakku.
Dia mendengar setiap doa kita."
"Apakah
kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang sudah
kau ajarkan kepadaku."
"Tuhan
melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,"sambung Valentine.
"Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya," kata Julia mantap.
Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan
doa.
Beberapa minggu kemudian,
Julia masih belum mengalami kesembuhan. Hingga tiba saat hukuman mati untuk Valentine. Valentine tidak sempat mengucapkan
perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata,"Dengan
cinta dari Valentin-mu" (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia). Ia meninggal 14 Februari 269. Valentine dimakamkan
di Gereja Praksedes Roma.
Keesokan
harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya.
Julia sembuh dari kebutaannya.
Pada
tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine.
Kebetulan tanggal kematian Valentine bertepatan dengan perayaan Lupercalia,
suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan ini, orang Romawi melakukan undian
seksual! Caranya, merka memasukkan nama ke dalam satu wadah, lalu mengambil secara acak nama lawan jenisnya. Nama yang didapat
itu menjadi pasangan hidupnya selama satu tahun. Lalu pada perayaan berikutnya mereka membuang undi lagi.
Rupanya Paus tidak sreg pada cara perayaan ini. Karena itulah, gereja sedikit
memodifikasi perayaan ini. Mereka memasukkan nama-nama santo dalam kotak itu. Selama setahun setiap orang akan meneladani
santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Untuk membuat acara itu sedikit lucu, gereja juga memasukkan nama Simeon
Stylites. Orang yang mengambil nama ini dianggap apes alias tidak mujur, soalnya Simeon menghabiskan hidupnya di atas pillar,
tidak beranjak satu kali pun.
Nama
Valentine lalu diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan
perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan
kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian
kecil dengan bunga, coklat dan permen.
Di
zaman modern, kebiasaan menulis surat dengan tangan diangap tidak praktis. Lagipula, tidak setiap orang bisa merangkaikan
kata-kata yang romantis. Lalu muncullah kartu valentine yang dianggap lebih praktis. Kartu Valentine modern pertama dikirim
oleh Charles seorang bangsawan Orleans kepada istrinya, tahun 1415. Ketika itu dia mendekam di penjara di Menara London. Kartu
ini masih dipameran di British Museum. Di Amerika,Esther Howland adalah orang pertama yang mengirimkan kartu valentine. Kartu
valentine secara komersial pertama kali dibuat tahun 1800-an.
Sayangnya dari hari ke hari, perayan Valentine telah kehilangan makna yang sejati. Semangat kasih dn
pengorbanan St. Valentine telah dikalahkan oleh nafsu komesialisasi perayaan ini. Untuk itulah kita perlu mengembalikan makna
perayaan ini, seperti dalam 1 Yohanes 4:16: "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah
adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia" AMIN
" SELAMAT HARI VALENTINE"
MDC FM SURABAYA
POSTED BY :NR/MDCFM/09
